Bungie Gugat YouTuber yang Berikan DMCA Destiny Palsu

Laporan baru mengungkapkan bahwa Bungie telah menggugat seorang YouTuber Destiny karena memberikan DMCA Destiny palsu terhadap sesama YouTuber.

Informasi ini pertama kali dipublikasikan oleh The Game Post. Jika kalian tertarik dengan kondisi terkini industri video game, kalian bisa melihat artikel kami lainnya di sini.

Bungie Gugat YouTuber yang Berikan DMCA Destiny Palsu

Pada bulan Maret lalu, Bungie mengungkapkan bahwa mereka sedang menyelidiki serangkaian penghapusan hak cipta di YouTube yang tidak berasal dari perusahaan atau mitranya.

Di bulan yang sama, mereka mengajukan gugatan yang mengklaim bahwa John Does telah menggunakan “lubang di keamanan proses DMCA YouTube” untuk meniru Bungie dan melakukan sabotase karya pembuat konten Destiny.

Dalam revisi pengaduan asli yang ditemukan oleh The Game Post, tersangka dari kasus itu bernama Nick Minor, alias YouTuber bernama Lord Nazo.

Pada bulan Desember 2021, saluran YouTube Lord Nazo diberikan pemberitahuan penghapusan setelah dia menerbitkan musik dari soundtrack asli untuk ekspansi Destiny: The Taken King. Menurut Bungie, penerbitan itu melanggar hak cipta dan kebijakannya tentang penggunaan kekayaan intelektual oleh penggemar.

Alih-alih menghapus videonya, Minor diduga telah membiarkannya online hingga YouTube menghapus video tersebut pada bulan Januari 2022.

Bungie mengklaim bahwa Minor membuat akun Gmail palsu untuk berpura-pura sebagai vendor perlindungan merek Bungie, CSC, dan mengirimkan DMCA palsu yang menargetkan video yang diunggah oleh anggota dari komunitas Destiny, ini termasuk My Name is Byf, Aztecross, The Phoenix, dan Promethean.

Bungie mengklaim bahwa mereka “berhak atas ganti rugi, termasuk peningkatan ganti rugi menurut undang-undang sebesar $150.000 untuk setiap karya yang terlibat dalam Fraudulent Takedown Notice yang dengan sengaja melanggar hak cipta terdaftar Bungie, dengan total $7.650.000”.

Selain terkait pelanggaran hak cipta, Bungie mencari “kerugian dalam jumlah yang akan dibuktikan di pengadilan” terkait dengan tuduhan pencemaran nama baik, pelanggaran kontrak, dan pelanggaran Washington Consumer Protection Act.

Baca Juga :  Penjualan Resident Evil 2 Remake Tembus 10 Juta Kopi